4.01.2009

CERITA PEMENANG NOBEL (2)

Veltman – Jasa sang Guru
Salah satu faktor penunjang keberhasilan para ilmuwan dalam meniti karir
ilmiahnya adalah guru.

Mereka
umumnya masih mengenang dengan baik guru yang dikagumi dan yang telah
memberi inspirasi untuk menekuni bidang yang kini mereka geluti. Bahkan lebih dari
itu peraih Nobel Fisika 1999, Martinus J.G Veltman, fisikawan asal Belanda
mengatakan bahwa gurunya, Mr Beunes, merupakan penentu jalan hidupnya.
Bagaimana tidak, Mr Baunes, kenang Veltman khusus datang ke rumah untuk
bertemu dengan orang tuanya dan menyarankan mereka agar mengirim Veltman ke
Perguruan tinggi. Padahal ketika itu, ketika itu masuk perguruan tinggi di negerinya
masih tergolong ekslusif lagi pula nilai Veltman hanya pas-pasan. Ditambah lagi
kondisi keuangan keluarganya juga sedang mengalami kesulitan. Dengan bujukan
gurunya itulah maka orang tua Veltman memaksakan diri untuk memasukkan
Veltman ke Universitas Utrecht.
Dilahirkan dikota Waalwijk, pada 27 Juni1931 Veltman hidup dibawah
bayang-bayang perang, beberapa kali ia selamat dari ledakan bom. Di Universitas,
untuk biaya kuliah, Veltman harus bekerja sebagai juru tik atau menjual sesuatu. Ini
juga yang menyebabkan kuliah Veltman mulur dua tahun lebih lambat dari normal.
Tetapi untunglah, Veltman tidak pernah patah semangat dalam upaya memperoleh
pengetahuan.
Selama masa kuliah, Veltman menganggap pelajaran fisika kurang menarik
dan tidak memberi inspirasi. Mungkin karena pelajaran ini tidak disajikan dengan
baik. Pada waktu itu banyak fisikawan Belanda meninggalkan negerinya atau
terbunuh karena perang. Ketertarikannya pada fisika timbul setelah ia membaca buku
"The Meaning of Relativity" yang ditulis Einstein. Buku ini sangat memikat dan
memberikan ia dorongan untuk menyukai fisika.
Setamat kuliah, Veltman bekerja di laboratorium Van Der Walls, Amsterdam
kemudian melanjutkan ke program S3 dibawah bimbingan Leon Van Hove. Untuk
menambah pengetahuannya dalam bidang fisika teorinya, pada tahun 1959 Veltman
mengikuti kuliah-kuliah dari pembicara terkenal di Baples seperti Kurt Symanzik dan
Bruno Zumino. Pada Agustus 1960, Veltman pergi ke sekolah lain di Edinburgh. Di
sana ia bertemu bertemu dengan Sheldon Glashow sebagai sesama siswa. Saat itu
Glashow sedang bekerja dalam bidang yang kelak membuahkan hadiah nobel 1979.
Tahun 1960 itu juga, Veltman ikut Van Hove bergabung di laboratorium
energi tinggi, CERN di Swiss. Ditempat ini, suatu saat ia melihat pengumuman yang
dipasang Sam Berman berbunyi “Jika anda tidak memiliki apa pun lagi untuk
dikerjakan dan berharap tidak menjadi gelandangan di jalanan, maka ketuklah pintu
saya.” Itulah yang kemudian dilakukan Veltman.
Oleh Berman, Veltman disarankan untuk melakukan perhitungan koreksi
Coulomb atas produksi vektor boson pada ekperimen neutrino CERN dan
menjadikan topik ini sebagai bagian kedua tesisnya. Ia berhasil menyelesaikan
tesisnya pada 22 April 1963.
Pada September 1966, Veltman kembali ke Utrecht menjadi guru besar dalam
bidang fisika teori dan menjadi pelopor berdirinya jurusan fisika partikel. Pada akhir
tahun 1960-an, Veltman memiliki beberapa mahasiswa bimbingan, di antaranya
adalah Gerard 't Hooft. Hooft tampak sangat antusias pada bidang yang sedang
dikerjakan Veltman, yakni renormalisasi teori gauge non-abelian. Di luar perkiraan,
Hooft ternyata mampu menyelesaikan perhitungan dengan bantuan program komputer
yang dibuat oleh Veltman. Pada akhirnya, hasil rumusan mereka untuk teori gauge
non-abelian interaksi lemah telah menjadi “mesin teori” yang sangat berguna untuk
menjelaskan struktur kuantum interaksi elektro-lemah. Hasil pekerjaan mereka yang
merupakan terbosan baru dalam fisika partikel elementer tersebut akhirnya menjadi
tiket bagi Veltman dan Hooft untuk terbang ke Swedia menerima penghargaan
Nobel Fisika tahun 1999.
Setelah kesuksesan itu, grup penelitian Veltman di Utrecht menjadi populer.
Pekerjaan Veltmanpun kian bertambah. Selain melakukan penelitian, ia juga
disibukkan dengan upaya mereformasi sistem pendidikan fisika di Utretch. Mungkin
ia tidak ingin lagi pengalamannya dulu --tidak memperoleh pendidikan fisika yang
cukup baik selama kuliah-- terulang pada mahasiswa-mahasiswa baru di negerinya.
Kepada generasi muda, Veltman sering mengatakan bahwa fisika teori
merupakan salah satu disiplin ilmu yang sangat berguna untuk dipelajari. Ilmu ini
memang tidak menyiapkan seseorang untuk menguasai satu bidang kerja tertentu.
Tetapi metode ilmiah yang dipelajari bermanfaat untuk berbagai bidang pekerjaan.
Sebagai contoh, salah satu penerima nobel ekonomi adalah fisikawan teoritis. Dan
anaknya sendiri, Helena, ahli fisika partikel, kini bekerja di Bank Dunia, London.
(Yohanes Surya)
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar