TSUI SI PEMBELAJAR YANG TEKUN
Daniel Chee Tsui adalah seorang yang ilmuwan yang berjuang
benar-benar dari nol. Ayah atau ibunya bukanlah seorang
terpelajar. Mereka buta huruf dan tinggal dalam suatu desa
yang sering dilanda kekeringan, banjir dan perang. Dengan
kondisi dan keadaan keluarga seperti itu, rasanya mustahil bagi
seorang Daniel Tsui dapat menjadi seorang ilmuwan ternama.
Namun ketekunannya dan dorongan, pengorbanan serta
kebaikan dari orang-orang sekitarnya telah membuat Daniel
Tsui menjadi salah satu eksperimentalis fisika terbaik.
Daniel Tsui lahir pada tahun 1939 di suatu desa kecil di Provinsi Henan, China.
Walaupun tidak pernah sekolah, ayahnya berkeinginan keras dan bersedia mengorbankan
apa saja agar anaknya dapat bersekolah di sekolah yang baik. Itu sebabnya pada tahun
1951, ayahnya mengirim Tsui ke Hongkong.
Meskipun awalnya takut dan gentar karena suasana kota yang sangat berbeda dengan
desanya dan karena ia tidak bisa berbicara dengan dialek kanton, Tsui kecil merasa
sangat bangga bersekolah di Hongkong. Disini ia bertemu dengan banyak teman yang
mau bersahabat dengan dia, mengajaknya ikut berbagai kegiatan di luar sekolah, serta
menolongnya mengatasi rasa takut dan gentarnya itu. Lulus sekolah dasar, Tsui
melanjutkan ke sekolah menengah Pui Ching, suatu sekolah menengah yang sangat
terkenal di Hongkong karena banyaknya pengajar yang berkualitas. Guru-guru di
sekolah Pui Ching adalah lulusan terbaik dari berbagai universitas top di China. Guruguru ini hijrah ke Hongkong untuk menghindari perang yang terus berkecamuk di China.
Guru-gurunya inilah yang memberikan banyak inspirasi pada Tsui untuk hidup sebagai
ilmuwan yang selalu mengeksplor hal-hal baru dan menantang.
Tahun 1957 setelah lulus sekolah menengah, Tsui diterima di jurusan kedokteran,
National Taiwan University di Taiwan. Namun karena saat itu ia tidak tahu dimana orang
tuanya dan ia juga tidak tahu apakah ia akan kembali ke China, Tsui memilih tinggal di
Hongkong dan masuk program khusus 2 tahun di University of Hongkong atas biaya
pemerintah China. Pada musim semi tahun berikutnya, Tsui menerima kabar baik dari
Amerika Serikat, ia ditawarkan beasiswa penuh dari Augustana College di Rock Island
Illinois. Tsui sangat menikmati kuliah di Augustana College. Ia mengatakan bahwa
disini ia bukan saja belajar fisika dan matematika, tetapi ia bebas membaca, belajar dan
berpikir tentang iman kristennya yang telah dipeluknya sejak ia kecil. Lulus dari sekolah
menengah, Tsui melanjutkan kuliahnya ke University of Chicago tempat dimana Chen
Ning Yang dan Tsung Dao Lee, peraih Nobel Fisika tahun 1957 tinggal. Dengan
keberadaan kedua fisikawan tingkat dunia ini, University of Chicago waktu itu
merupakan impian dari semua pelajar China.
University of Chicago yang berada di kota besar Chicago menuntut bukan hanya
kemampuan intektual yang tinggi saja, tetapi juga kerja keras. Para mahasiswa
diharuskan menekuni bidang yang digelutinya secara serius. Tsui menyukai eksperimen
fisika dan dibawah bimbingan Prof. Royal Stark, Tsui mencoba menjadi eksperimentalis
yang baik. Tsui tidak hanya belajar hal-hal yang kecil seperti menyolder, menggambar
teknik, tetapi juga ia mencoba medesain sendiri alat-alat eksperimen dan membangun
laboratoriumnya sendiri. Keinginan belajar mandiri dari hal-hal kecil dan kerja keras
inilah yang membuat ia percaya diri dan melambungkan ia menjadi experimentalis
tingkat dunia.
Tahun 1968, Tsui bekerja di Bell Laboratories, New Jersey sebagai peneliti dalam
bidang fisika zat padat. Dengan fasilitas yang lengkap, Tsui mencoba mengeksplor sifatsifat elektron dan ia menemukan banyak sifat-sifat baru elektron yang mampu membuka
suatu bidang baru dalam fisika dan menstimulasi banyak terobosan-terobosan fisika teori
dan eksperimen yang dapat diaplikasikan ke bidang lain selain fisika. Bekerja bersamasama dengan Horst Stormer, Tsui mengembangkan material baru dimana elektron dapat
bergerak dipermukaannya tanpa gesekan. Penemuannya ini kini digunakan untuk
pembuatan chip-chip komputer yang merupakan peralatan utama untuk era high-tech ini.
Karena penemuannya yang luar biasa ini, pada tahun 1998 Daniel Tsui mendapat
anugerah hadiah nobel fisika bersama-sama dengan Robert Laughin dari Stanford
University dan Horst Stormer dari Columbia University.
Tsui mengakui bahwa salah satu pendukung kesuksesannya adalah kebebasan yang
diberikan oleh Bell Laboratories untuk menggunakan fasilitas yang ada dalam melakukan
eksperimen. Menurut Tsui kebebasan menciptakan kreatifitas, industri, inovasi,
pandangan ke depan dan memperbaiki kualitas hidup. Seperti yang dikatakan oleh
Einstein bahwa sesuatu yang besar diciptakan dalam suatu kebebasan “Everything that is
really great and inspiring is created by the individual who can labor in freedom”.
Tsui bukan saja seorang peneliti yang ulung, tetapi ia juga seorang yang sangat humanis.
Ia selalu menekankan pada mahasiswanya bahwa hidup ini harus seimbang. Kita tidak
hanya bisa hidup dari fisika saja. Ada sisi-sisi lain dari fisika yang tidak bisa mengubah
kehidupan kita, seperti yang sering ia ucapkan:”Physics can change the environment of
life but it can’t improve the content of life”. Tsui juga sering mengingatkan
mahasiswanya untuk jangan takut mengambil jurusan yang disukainya. Ia mengatakan
bahwa apapun yang dipelajarinya, asalkan dipelajari dengan sungguh-sungguh akan
membawa seseorang menjadi sukses.
Walaupun sudah menjadi terkenal, Tsui masih menyukai mengajar. Saat ia mengajar di
Princeton University, seorang alumni Tim Olimpiade Fisika Indonesia, Oki Gunawan
(peraih perunggu Olimpiade Fisika Dunia 1993) sedang mengambil Ph.D dibawah
bimbingannya. Salah satu semboyan Daniel Tsui yang membuat ia terus mengajar dan
belum pensiun adalah “the only meaningful life is a life of learning. What better way is
there to learn than through teaching”. (Yohanes Surya).
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
5.10.2010
2.04.2010
CEPAT TEPAT UN 2010
SMAN 4 LAHAT MERAIH JUARA 1
untuk kelompok IPA
sman 4 lahat kembali menorehkan prestasi, dengan menyisihkan 45 peserta
pada babak penyisihan dan menyingkirkan sma ternama disumsel pada saat final,
sehingga bertenger diperingkat 1 cepat tepat UN 2010 pada kelompok IPA
cepat tepat un tingkat propinsi yang diadakan oleh FGS-SS
pada tanggal 4 februari 2010,juga diadakan pada bidang studi IPS dan sman 4 lahat untuk program IPS menduduki posisi ke 3,dengan prestasi ini sman4 lahat berhak atas tropi bergilir,nama siswa yang mewakili tim ipa 1. HERALDUS Panji arikson 2. Adam ahmad akbar 3. ari oktaza,good luck untuk tim IPA
untuk kelompok IPA
sman 4 lahat kembali menorehkan prestasi, dengan menyisihkan 45 peserta
pada babak penyisihan dan menyingkirkan sma ternama disumsel pada saat final,
sehingga bertenger diperingkat 1 cepat tepat UN 2010 pada kelompok IPA
cepat tepat un tingkat propinsi yang diadakan oleh FGS-SS
pada tanggal 4 februari 2010,juga diadakan pada bidang studi IPS dan sman 4 lahat untuk program IPS menduduki posisi ke 3,dengan prestasi ini sman4 lahat berhak atas tropi bergilir,nama siswa yang mewakili tim ipa 1. HERALDUS Panji arikson 2. Adam ahmad akbar 3. ari oktaza,good luck untuk tim IPA
11.25.2009
4.22.2009
PEMENANG OLIMPIADE SAINS KAB.LAHAT 2009
SMAN 4 LAHAT SABET HABIS OLIMPIADE SAINS
TNGKAT KAB.LAHAT TAHUN 2009
FISIKA
1. Heraldus panji arikson (sman4lahat)
2. Ridho Fahrurozih h (sman4lahat)
3. Agung Hadi Wibowo (sman4lahat)
KIMIA
1. Kgs.Dedi Iskandar (sman4lahat)
2. Linda Rimadini (sman4lahat)
3. Hesti parbuntari (sman4lahat)
BIOLOGI
1. Halim arahman (sman4lahat)
2. Christian Badia S (sman4lahat)
3. Putri Inayah (sman4lahat)
MATEMATIKA
1. Ari Oktaza (sman4lahat)
2. Eriski Isnanda (sman4lahat)
3. Merliansyah (sman4lahat)
KOMPUTER
1. Rahman Taufik (sman4lahat)
2. Rosita (sman4lahat)
3. Agustriansyah (sman4lahat)
EKONOMI
1. Retno Surya Anjani (sman4lahat)
2. Relling Novita Sari (sman4lahat)
3. M. Safari (sman4lahat)
ASTRONOMI
1. Reksa Alviona (sman4lahat)
2. M. Khairuman (sman4lahat)
3. Eriq Pratista Agustap (sman4lahat)
KEBUMIAN
1.Marthen pratama (sman4lahat)
2. Syabna mita thyastiana (sman4lahat)
3. Sepri rustina (sman4lahat)
TNGKAT KAB.LAHAT TAHUN 2009
FISIKA
1. Heraldus panji arikson (sman4lahat)
2. Ridho Fahrurozih h (sman4lahat)
3. Agung Hadi Wibowo (sman4lahat)
KIMIA
1. Kgs.Dedi Iskandar (sman4lahat)
2. Linda Rimadini (sman4lahat)
3. Hesti parbuntari (sman4lahat)
BIOLOGI
1. Halim arahman (sman4lahat)
2. Christian Badia S (sman4lahat)
3. Putri Inayah (sman4lahat)
MATEMATIKA
1. Ari Oktaza (sman4lahat)
2. Eriski Isnanda (sman4lahat)
3. Merliansyah (sman4lahat)
KOMPUTER
1. Rahman Taufik (sman4lahat)
2. Rosita (sman4lahat)
3. Agustriansyah (sman4lahat)
EKONOMI
1. Retno Surya Anjani (sman4lahat)
2. Relling Novita Sari (sman4lahat)
3. M. Safari (sman4lahat)
ASTRONOMI
1. Reksa Alviona (sman4lahat)
2. M. Khairuman (sman4lahat)
3. Eriq Pratista Agustap (sman4lahat)
KEBUMIAN
1.Marthen pratama (sman4lahat)
2. Syabna mita thyastiana (sman4lahat)
3. Sepri rustina (sman4lahat)
4.01.2009
CERITA PEMENANG NOBEL (2)
Veltman – Jasa sang Guru
Salah satu faktor penunjang keberhasilan para ilmuwan dalam meniti karir
ilmiahnya adalah guru.
Mereka
umumnya masih mengenang dengan baik guru yang dikagumi dan yang telah
memberi inspirasi untuk menekuni bidang yang kini mereka geluti. Bahkan lebih dari
itu peraih Nobel Fisika 1999, Martinus J.G Veltman, fisikawan asal Belanda
mengatakan bahwa gurunya, Mr Beunes, merupakan penentu jalan hidupnya.
Bagaimana tidak, Mr Baunes, kenang Veltman khusus datang ke rumah untuk
bertemu dengan orang tuanya dan menyarankan mereka agar mengirim Veltman ke
Perguruan tinggi. Padahal ketika itu, ketika itu masuk perguruan tinggi di negerinya
masih tergolong ekslusif lagi pula nilai Veltman hanya pas-pasan. Ditambah lagi
kondisi keuangan keluarganya juga sedang mengalami kesulitan. Dengan bujukan
gurunya itulah maka orang tua Veltman memaksakan diri untuk memasukkan
Veltman ke Universitas Utrecht.
Dilahirkan dikota Waalwijk, pada 27 Juni1931 Veltman hidup dibawah
bayang-bayang perang, beberapa kali ia selamat dari ledakan bom. Di Universitas,
untuk biaya kuliah, Veltman harus bekerja sebagai juru tik atau menjual sesuatu. Ini
juga yang menyebabkan kuliah Veltman mulur dua tahun lebih lambat dari normal.
Tetapi untunglah, Veltman tidak pernah patah semangat dalam upaya memperoleh
pengetahuan.
Selama masa kuliah, Veltman menganggap pelajaran fisika kurang menarik
dan tidak memberi inspirasi. Mungkin karena pelajaran ini tidak disajikan dengan
baik. Pada waktu itu banyak fisikawan Belanda meninggalkan negerinya atau
terbunuh karena perang. Ketertarikannya pada fisika timbul setelah ia membaca buku
"The Meaning of Relativity" yang ditulis Einstein. Buku ini sangat memikat dan
memberikan ia dorongan untuk menyukai fisika.
Setamat kuliah, Veltman bekerja di laboratorium Van Der Walls, Amsterdam
kemudian melanjutkan ke program S3 dibawah bimbingan Leon Van Hove. Untuk
menambah pengetahuannya dalam bidang fisika teorinya, pada tahun 1959 Veltman
mengikuti kuliah-kuliah dari pembicara terkenal di Baples seperti Kurt Symanzik dan
Bruno Zumino. Pada Agustus 1960, Veltman pergi ke sekolah lain di Edinburgh. Di
sana ia bertemu bertemu dengan Sheldon Glashow sebagai sesama siswa. Saat itu
Glashow sedang bekerja dalam bidang yang kelak membuahkan hadiah nobel 1979.
Tahun 1960 itu juga, Veltman ikut Van Hove bergabung di laboratorium
energi tinggi, CERN di Swiss. Ditempat ini, suatu saat ia melihat pengumuman yang
dipasang Sam Berman berbunyi “Jika anda tidak memiliki apa pun lagi untuk
dikerjakan dan berharap tidak menjadi gelandangan di jalanan, maka ketuklah pintu
saya.” Itulah yang kemudian dilakukan Veltman.
Oleh Berman, Veltman disarankan untuk melakukan perhitungan koreksi
Coulomb atas produksi vektor boson pada ekperimen neutrino CERN dan
menjadikan topik ini sebagai bagian kedua tesisnya. Ia berhasil menyelesaikan
tesisnya pada 22 April 1963.
Pada September 1966, Veltman kembali ke Utrecht menjadi guru besar dalam
bidang fisika teori dan menjadi pelopor berdirinya jurusan fisika partikel. Pada akhir
tahun 1960-an, Veltman memiliki beberapa mahasiswa bimbingan, di antaranya
adalah Gerard 't Hooft. Hooft tampak sangat antusias pada bidang yang sedang
dikerjakan Veltman, yakni renormalisasi teori gauge non-abelian. Di luar perkiraan,
Hooft ternyata mampu menyelesaikan perhitungan dengan bantuan program komputer
yang dibuat oleh Veltman. Pada akhirnya, hasil rumusan mereka untuk teori gauge
non-abelian interaksi lemah telah menjadi “mesin teori” yang sangat berguna untuk
menjelaskan struktur kuantum interaksi elektro-lemah. Hasil pekerjaan mereka yang
merupakan terbosan baru dalam fisika partikel elementer tersebut akhirnya menjadi
tiket bagi Veltman dan Hooft untuk terbang ke Swedia menerima penghargaan
Nobel Fisika tahun 1999.
Setelah kesuksesan itu, grup penelitian Veltman di Utrecht menjadi populer.
Pekerjaan Veltmanpun kian bertambah. Selain melakukan penelitian, ia juga
disibukkan dengan upaya mereformasi sistem pendidikan fisika di Utretch. Mungkin
ia tidak ingin lagi pengalamannya dulu --tidak memperoleh pendidikan fisika yang
cukup baik selama kuliah-- terulang pada mahasiswa-mahasiswa baru di negerinya.
Kepada generasi muda, Veltman sering mengatakan bahwa fisika teori
merupakan salah satu disiplin ilmu yang sangat berguna untuk dipelajari. Ilmu ini
memang tidak menyiapkan seseorang untuk menguasai satu bidang kerja tertentu.
Tetapi metode ilmiah yang dipelajari bermanfaat untuk berbagai bidang pekerjaan.
Sebagai contoh, salah satu penerima nobel ekonomi adalah fisikawan teoritis. Dan
anaknya sendiri, Helena, ahli fisika partikel, kini bekerja di Bank Dunia, London.
(Yohanes Surya)
***
Salah satu faktor penunjang keberhasilan para ilmuwan dalam meniti karir
ilmiahnya adalah guru.
Mereka
umumnya masih mengenang dengan baik guru yang dikagumi dan yang telah
memberi inspirasi untuk menekuni bidang yang kini mereka geluti. Bahkan lebih dari
itu peraih Nobel Fisika 1999, Martinus J.G Veltman, fisikawan asal Belanda
mengatakan bahwa gurunya, Mr Beunes, merupakan penentu jalan hidupnya.
Bagaimana tidak, Mr Baunes, kenang Veltman khusus datang ke rumah untuk
bertemu dengan orang tuanya dan menyarankan mereka agar mengirim Veltman ke
Perguruan tinggi. Padahal ketika itu, ketika itu masuk perguruan tinggi di negerinya
masih tergolong ekslusif lagi pula nilai Veltman hanya pas-pasan. Ditambah lagi
kondisi keuangan keluarganya juga sedang mengalami kesulitan. Dengan bujukan
gurunya itulah maka orang tua Veltman memaksakan diri untuk memasukkan
Veltman ke Universitas Utrecht.
Dilahirkan dikota Waalwijk, pada 27 Juni1931 Veltman hidup dibawah
bayang-bayang perang, beberapa kali ia selamat dari ledakan bom. Di Universitas,
untuk biaya kuliah, Veltman harus bekerja sebagai juru tik atau menjual sesuatu. Ini
juga yang menyebabkan kuliah Veltman mulur dua tahun lebih lambat dari normal.
Tetapi untunglah, Veltman tidak pernah patah semangat dalam upaya memperoleh
pengetahuan.
Selama masa kuliah, Veltman menganggap pelajaran fisika kurang menarik
dan tidak memberi inspirasi. Mungkin karena pelajaran ini tidak disajikan dengan
baik. Pada waktu itu banyak fisikawan Belanda meninggalkan negerinya atau
terbunuh karena perang. Ketertarikannya pada fisika timbul setelah ia membaca buku
"The Meaning of Relativity" yang ditulis Einstein. Buku ini sangat memikat dan
memberikan ia dorongan untuk menyukai fisika.
Setamat kuliah, Veltman bekerja di laboratorium Van Der Walls, Amsterdam
kemudian melanjutkan ke program S3 dibawah bimbingan Leon Van Hove. Untuk
menambah pengetahuannya dalam bidang fisika teorinya, pada tahun 1959 Veltman
mengikuti kuliah-kuliah dari pembicara terkenal di Baples seperti Kurt Symanzik dan
Bruno Zumino. Pada Agustus 1960, Veltman pergi ke sekolah lain di Edinburgh. Di
sana ia bertemu bertemu dengan Sheldon Glashow sebagai sesama siswa. Saat itu
Glashow sedang bekerja dalam bidang yang kelak membuahkan hadiah nobel 1979.
Tahun 1960 itu juga, Veltman ikut Van Hove bergabung di laboratorium
energi tinggi, CERN di Swiss. Ditempat ini, suatu saat ia melihat pengumuman yang
dipasang Sam Berman berbunyi “Jika anda tidak memiliki apa pun lagi untuk
dikerjakan dan berharap tidak menjadi gelandangan di jalanan, maka ketuklah pintu
saya.” Itulah yang kemudian dilakukan Veltman.
Oleh Berman, Veltman disarankan untuk melakukan perhitungan koreksi
Coulomb atas produksi vektor boson pada ekperimen neutrino CERN dan
menjadikan topik ini sebagai bagian kedua tesisnya. Ia berhasil menyelesaikan
tesisnya pada 22 April 1963.
Pada September 1966, Veltman kembali ke Utrecht menjadi guru besar dalam
bidang fisika teori dan menjadi pelopor berdirinya jurusan fisika partikel. Pada akhir
tahun 1960-an, Veltman memiliki beberapa mahasiswa bimbingan, di antaranya
adalah Gerard 't Hooft. Hooft tampak sangat antusias pada bidang yang sedang
dikerjakan Veltman, yakni renormalisasi teori gauge non-abelian. Di luar perkiraan,
Hooft ternyata mampu menyelesaikan perhitungan dengan bantuan program komputer
yang dibuat oleh Veltman. Pada akhirnya, hasil rumusan mereka untuk teori gauge
non-abelian interaksi lemah telah menjadi “mesin teori” yang sangat berguna untuk
menjelaskan struktur kuantum interaksi elektro-lemah. Hasil pekerjaan mereka yang
merupakan terbosan baru dalam fisika partikel elementer tersebut akhirnya menjadi
tiket bagi Veltman dan Hooft untuk terbang ke Swedia menerima penghargaan
Nobel Fisika tahun 1999.
Setelah kesuksesan itu, grup penelitian Veltman di Utrecht menjadi populer.
Pekerjaan Veltmanpun kian bertambah. Selain melakukan penelitian, ia juga
disibukkan dengan upaya mereformasi sistem pendidikan fisika di Utretch. Mungkin
ia tidak ingin lagi pengalamannya dulu --tidak memperoleh pendidikan fisika yang
cukup baik selama kuliah-- terulang pada mahasiswa-mahasiswa baru di negerinya.
Kepada generasi muda, Veltman sering mengatakan bahwa fisika teori
merupakan salah satu disiplin ilmu yang sangat berguna untuk dipelajari. Ilmu ini
memang tidak menyiapkan seseorang untuk menguasai satu bidang kerja tertentu.
Tetapi metode ilmiah yang dipelajari bermanfaat untuk berbagai bidang pekerjaan.
Sebagai contoh, salah satu penerima nobel ekonomi adalah fisikawan teoritis. Dan
anaknya sendiri, Helena, ahli fisika partikel, kini bekerja di Bank Dunia, London.
(Yohanes Surya)
***
2.24.2009
CERITA PEMENANG NOBEL (1)
Feynman si Jenius Nakal
Dari Anjing Pelacak sampai Tukang Bongkar Brankas
Jenius yang satu ini senangnya main. Semua dianggapnya
mainan......(selanjutnya dapat dikirim leawat email)
(Yohanes Surya)
Dari Anjing Pelacak sampai Tukang Bongkar Brankas
Jenius yang satu ini senangnya main. Semua dianggapnya
mainan......(selanjutnya dapat dikirim leawat email)
(Yohanes Surya)
Langganan:
Postingan (Atom)